IOC dept. Writter
IOC dept. Editor
INVESTINGONCLIMATE.COM, JAKARTA. Investasi global dalam transisi energi mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah pada 2024. Total belanja dunia untuk teknologi dan infrastruktur energi bersih mencapai US$2,4 triliun, meningkat sekitar 20 persen dibandingkan rata-rata periode 2022–2023. Lonjakan ini menandai percepatan serius dunia dalam menggeser sistem energi dari ketergantungan bahan bakar fosil menuju sumber energi rendah karbon.
Berdasarkan pemetaan Visual Capitalist yang mengacu pada data Climate Policy Initiative (CPI) dan International Renewable Energy Agency (IRENA), arus investasi tersebut tersebar ke berbagai sektor utama transisi energi, mulai dari transportasi listrik, pembangkit energi terbarukan, jaringan listrik, hingga teknologi penyimpanan energi. Namun, satu sektor muncul sebagai penyerap investasi terbesar secara tunggal: kendaraan listrik (electric vehicles/EV).
Sepanjang 2024, investasi global di sektor kendaraan listrik mencapai US$763 miliar, atau menjadi kategori terbesar dalam belanja transisi energi dunia. Angka ini tumbuh 33 persen dibandingkan rata-rata dua tahun sebelumnya, mencerminkan pergeseran besar di sektor transportasi global.
CPI mencatat bahwa elektrifikasi transportasi dipandang sebagai cara paling cepat dan efektif untuk menurunkan emisi karbon, mengingat sektor ini menyumbang sekitar seperempat emisi energi global. Investasi EV tidak hanya mencakup produksi kendaraan, tetapi juga baterai, rantai pasok mineral kritis, serta infrastruktur pendukung.
Energi Surya dan Jaringan Listrik Ikut Menguat
Meski EV menjadi sektor terbesar, investasi global tidak terkonsentrasi pada satu bidang saja. Energi surya (solar photovoltaic/PV) menjadi sektor pembangkit listrik terbarukan dengan investasi terbesar, mencapai US$554 miliar pada 2024. Nilai ini melonjak 49 persen, menjadikan surya sebagai tulang punggung ekspansi kapasitas energi bersih global.
IRENA menilai energi surya unggul karena biaya yang terus menurun, waktu pembangunan yang singkat, serta fleksibilitas penerapan dari skala besar hingga atap rumah. Dalam konteks transisi energi, energi surya juga berperan penting sebagai pemasok listrik bersih untuk menopang pertumbuhan kendaraan listrik.
Selain itu, investasi pada jaringan listrik (power grids) mencapai US$359 miliar, tumbuh 14 persen. Peningkatan ini mencerminkan kebutuhan mendesak untuk memperkuat transmisi dan distribusi listrik agar mampu mengakomodasi pembangkit terbarukan yang tersebar serta peningkatan permintaan listrik akibat elektrifikasi transportasi dan industri.
Di sisi lain, sektor penyimpanan energi baterai (energy storage) mencatat pertumbuhan paling agresif meskipun nilainya masih relatif kecil. Pada 2024, investasi di sektor ini mencapai US$54 miliar, melonjak 73 persen dibandingkan periode sebelumnya. Teknologi penyimpanan dipandang krusial untuk menjaga keandalan sistem kelistrikan yang semakin bergantung pada energi surya dan angin.
Sebaliknya, beberapa sektor justru mengalami penurunan investasi. Energi angin turun sekitar 11 persen, sementara hidrogen hijau menyusut 20 persen, mencerminkan tantangan biaya, ketidakpastian permintaan, serta kebutuhan kebijakan pendukung yang lebih kuat.
Relevansi bagi Indonesia
Bagi negara berkembang seperti Indonesia, tren ini membuka peluang besar untuk menarik investasi di sektor kendaraan listrik, energi surya, serta infrastruktur kelistrikan. Indonesia telah mulai merasakan dampaknya pada 2025 melalui lonjakan penjualan kendaraan listrik dan masuknya investasi manufaktur EV.
Penjualan kendaraan listrik berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV) menunjukkan pertumbuhan yang sangat signifikan sepanjang Januari hingga November 2025. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat distribusi BEV dari pabrik ke dealer (wholesales) mencapai 82.525 unit, melonjak 113 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Data tersebut menegaskan bahwa kendaraan listrik kini telah memasuki fase akselerasi, bukan lagi tahap awal adopsi. Selain BEV, segmen kendaraan elektrifikasi lain juga mencatat pertumbuhan ekstrem, khususnya plug-in hybrid electric vehicle (PHEV).
Sepanjang Januari–November 2025, distribusi mobil PHEV melonjak hingga menjadi 4.312 unit. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, distribusinya hanya 130 unit. Lonjakan ini menunjukkan meningkatnya minat konsumen terhadap teknologi transisi yang menawarkan fleksibilitas antara mesin konvensional dan listrik.
Dari sisi pasar, produsen asal Tiongkok seperti BYD dan Denza mendominasi penjualan EV Indonesia dengan pangsa sekitar 57 persen. Dominasi ini sejalan dengan tren global, di mana China menjadi pusat utama investasi EV dan rantai pasok baterai dunia. CPI mencatat bahwa China menyumbang hampir setengah investasi global di sektor EV dan baterai, didukung kebijakan industri yang agresif dan skala produksi besar.
Indonesia juga mulai memperkuat posisinya dalam rantai nilai global. Pada akhir 2025, VinFast ditargetkan mulai mengoperasikan pabrik kendaraan listrik di Subang, Jawa Barat, dengan investasi awal lebih dari US$300 juta. Fasilitas ini memperkuat peran Indonesia sebagai basis produksi regional, terutama dengan dukungan sumber daya nikel yang strategis bagi industri baterai.
Foto: Unsplash/Michael Marais