Riset WRI Ungkap Krisis Talenta Hijau Global, Permintaan Tumbuh 12% Lampaui Pasokan

INVESTINGONCLIMATE.COM, JAKARTA. Riset World Resources Institute (WRI) menunjukkan dunia tengah menghadapi krisis talenta hijau, menyusul lonjakan kebutuhan keterampilan ramah lingkungan yang tidak diimbangi oleh kesiapan tenaga kerja global.

Melalui laporan yang dirilis pada Februari 2026, WRI menyoroti kesenjangan yang muncul di tengah percepatan transisi menuju ekonomi rendah karbon yang menuntut perubahan besar di pasar tenaga kerja. 

Menurut riset WRI, kebutuhan akan tenaga kerja dengan kompetensi hijau meningkat di berbagai sektor, mulai dari energi bersih, industri manufaktur, hingga sektor berbasis alam, namun pasokan tenaga kerja yang siap masih tertinggal.

“Sementara keterampilan dasar masih tertinggal, permintaan terhadap keterampilan hijau tumbuh sebesar 12% dari 2023 ke 2024 atau dua kali lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pasokannya,” demikian kata WRI dikutip dari situsnya, Selasa (31/3/2026). 

Peneliti mengatakan ketimpangan tersebut menegaskan bahwa persoalan utama dalam transisi ekonomi hijau bukan hanya soal penciptaan lapangan kerja, melainkan kesiapan sistem tenaga kerja dalam merespons perubahan kebutuhan industri. Tanpa intervensi yang terarah, peluang ekonomi yang besar berisiko tidak terserap optimal dan justru memperlebar kesenjangan.

“Mengamankan ratusan juta pekerjaan berkualitas membutuhkan investasi sekarang dalam pengembangan tenaga kerja,” lanjut mereka. 

Dalam proyeksinya, transisi menuju ekonomi rendah karbon diperkirakan dapat menghasilkan hampir 375 juta pekerjaan baru dalam satu dekade ke depan. Namun realisasi potensi tersebut sangat bergantung pada kemampuan negara dalam menyiapkan tenaga kerja yang memiliki keterampilan relevan melalui pendidikan, pelatihan, serta program peningkatan dan alih keterampilan.

Kendati demikian, fondasi keterampilan dasar di banyak negara dinilai masih lemah. Keterbatasan akses terhadap pendidikan berkualitas dan pelatihan vokasi menjadi penghambat utama dalam membangun tenaga kerja yang adaptif terhadap perubahan.

“Lebih dari 760 juta orang dewasa belum memiliki keterampilan dasar seperti literasi dan numerasi yang dibutuhkan untuk memasuki dunia kerja masa depan,” lanjut WRI. 

Kondisi ini juga tercermin pada generasi muda yang belum sepenuhnya siap menghadapi transformasi pasar kerja. Tanpa pembenahan sistem pendidikan dan pelatihan, kesenjangan antara kebutuhan industri dan kompetensi tenaga kerja diperkirakan akan semakin melebar dalam beberapa tahun ke depan.

Di sisi lain, permintaan tenaga kerja hijau tidak hanya terpusat pada sektor energi terbarukan. Sektor pertanian berkelanjutan, konstruksi hijau, manufaktur rendah emisi, hingga solusi berbasis alam seperti restorasi ekosistem dan pengelolaan sumber daya alam menjadi sumber pertumbuhan lapangan kerja baru.

“Pekerjaan dalam adaptasi iklim dapat mencakup hingga 280 juta dari total lapangan kerja baru yang tercipta,” kata mereka. 

Adapun, meski peluangnya besar, WRI menilai kesiapan kebijakan dan pendanaan masih menjadi hambatan utama. Banyak negara belum secara sistematis mengintegrasikan strategi pengembangan tenaga kerja dalam rencana iklim nasional, sehingga pengembangan SDM berjalan tidak seiring dengan kebutuhan transisi.

Keterbatasan anggaran juga memperburuk situasi, terutama di negara berkembang yang memiliki ruang fiskal terbatas. Tanpa investasi yang memadai, program pelatihan dan peningkatan keterampilan sulit diperluas untuk menjangkau tenaga kerja dalam jumlah besar.

Lebih jauh, WRI menilai transisi ini akan memicu dinamika besar di pasar tenaga kerja global. Ratusan juta pekerja diperkirakan harus beradaptasi melalui perpindahan sektor, peningkatan keterampilan, atau perubahan jenis pekerjaan. Di saat yang sama, sebagian pekerjaan lama, terutama yang bergantung pada bahan bakar fosil, akan mengalami penurunan.

Situasi ini menuntut pendekatan transisi yang adil dan inklusif. Pemerintah dan sektor swasta perlu memastikan bahwa kelompok rentan, termasuk pekerja informal, perempuan, dan masyarakat di wilayah tertinggal yang tidak tertinggal dalam proses transformasi ini.

Dalam konteks tersebut, WRI menyoroti kesiapan talenta menjadi faktor penentu daya saing global. Negara yang mampu mempercepat pengembangan keterampilan hijau akan berada di posisi lebih unggul dalam menarik investasi, memperluas industri baru, dan menciptakan lapangan kerja berkualitas.

Sebaliknya, tanpa langkah strategis dan investasi yang cukup, WRI menekankan bahwa krisis talenta hijau berpotensi menjadi hambatan struktural yang memperlambat pertumbuhan ekonomi sekaligus mengganggu upaya global dalam mengatasi perubahan iklim.

Foto: Freepik