Khaira J. Putri
Umar Idris
INVESTINGONCLIMATE.COM, JAKARTA. Dampak mematikan perubahan iklim diproyeksikan tidak terjadi secara merata di seluruh dunia. Namun Afrika dan Asia Selatan menjadi wilayah paling rentan terhadap lonjakan kematian akibat kenaikan suhu global.
Temuan ini terungkap dalam laporan terbaru Climate Impact Lab yang menyoroti risiko kesehatan manusia sebagai konsekuensi paling besar dari krisis iklim.
Laporan yang dirilis pada 25 Maret 2026 tersebut menunjukkan bahwa kawasan beriklim panas, khususnya di lintang rendah, akan mengalami peningkatan tajam angka kematian pada 2050. Sebaliknya, wilayah yang lebih dingin justru berpotensi mencatat penurunan kematian seiring berkurangnya risiko cuaca dingin ekstrem.
“Seperti halnya perjalanan membutuhkan peta, adaptasi iklim yang efektif bergantung pada pemahaman tentang di mana tindakan paling dibutuhkan dan investasi apa yang memberikan dampak terbesar” kata Co-Founder Climate Impact Lab, Michael Greenstone, dikutip dari laporan, Jumat (27/3/2026).
Greenstone menambahkan bahwa riset ini sekaligus menegaskan dampak perubahan iklim terhadap kesehatan tidak hanya ditentukan oleh kenaikan suhu semata, tetapi juga oleh kemampuan adaptasi masing-masing wilayah. Faktor seperti akses terhadap teknologi pendingin, layanan kesehatan, hingga kapasitas pemerintah menjadi pembeda utama antara wilayah yang mampu menekan risiko dan yang tidak.
“Kami menyediakan peta jalan tersebut dengan mengidentifikasi risiko iklim dan wilayah di mana investasi adaptasi dapat memberikan manfaat paling besar,” lanjutnya.
Afrika dan Asia Selatan Paling Terdampak
Secara geografis, wilayah Afrika Sub-Sahara dan Asia Selatan muncul sebagai titik paling kritis. Negara-negara di kawasan Sahel seperti Burkina Faso dan Niger diperkirakan mengalami lonjakan kematian lebih dari 60 per 100.000 penduduk akibat suhu ekstrem, atau melampaui tingkat kematian akibat malaria saat ini.
Di Asia Selatan, Pakistan diproyeksikan menghadapi peningkatan kematian sekitar 51 per 100.000 penduduk pada 2050. Angka ini setara dengan dampak penyakit mematikan seperti stroke di negara tersebut saat ini. Sebaliknya, wilayah lintang tinggi seperti Eropa Utara dan sebagian Amerika Utara justru berpotensi mengalami penurunan angka kematian karena musim dingin yang lebih ringan.
Laporan ini juga menyoroti ketimpangan global sebagai faktor kunci yang memperbesar dampak krisis iklim. Negara berpendapatan rendah diperkirakan menanggung beban kematian jauh lebih besar dibandingkan negara kaya. Secara global, sekitar 391.000 kematian per tahun diproyeksikan terjadi di negara berpendapatan rendah akibat perubahan suhu, dibandingkan hanya sekitar 39.000 di negara berpendapatan tinggi, meski jumlah populasinya relatif sebanding.
Kesenjangan ini mencerminkan perbedaan kapasitas adaptasi. Negara maju umumnya memiliki infrastruktur kesehatan yang lebih kuat, akses luas terhadap teknologi pendingin, serta sistem perlindungan yang lebih baik. Sebaliknya, negara miskin cenderung memiliki keterbatasan dalam melindungi masyarakatnya dari dampak suhu ekstrem.
Greenstone menyatakan perbandingan antara Djibouti dan Kuwait menjadi contoh nyata. Meski memiliki kondisi iklim serupa, Djibouti diproyeksikan mengalami peningkatan kematian dua kali lebih besar dibanding Kuwait karena keterbatasan sumber daya.
Lebih lanjut, tidak hanya antarnegara, ketimpangan dampak juga terjadi di dalam satu negara. Di Amerika Serikat, wilayah utara dan pegunungan diperkirakan mengalami penurunan angka kematian hingga 30–60 per 100.000 penduduk, sementara wilayah selatan justru menghadapi peningkatan.
Fenomena serupa juga terjadi di negara berkembang seperti Bolivia, di mana wilayah dataran rendah yang lebih panas menghadapi risiko lebih tinggi dibandingkan wilayah pegunungan yang lebih sejuk. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan adaptasi tidak dapat bersifat seragam, melainkan harus dirancang secara spesifik sesuai kondisi lokal.
Ketimpangan dan Adaptasi Jadi Penentu
Laporan tersebut juga menegaskan bahwa investasi dalam adaptasi menjadi faktor krusial untuk menekan dampak mematikan perubahan iklim, terutama di negara berpendapatan rendah yang memiliki keterbatasan dalam melindungi warganya dari paparan suhu ekstrem.
Bentuk adaptasi yang dimaksud mencakup berbagai intervensi, mulai dari perubahan perilaku masyarakat, perluasan akses terhadap teknologi pendingin seperti AC, hingga penguatan sistem kesehatan dan infrastruktur publik. Upaya ini dinilai harus dilakukan secara simultan oleh individu, pemerintah lokal dan nasional, serta didukung oleh lembaga filantropi dan pendanaan internasional.
Selain itu, pertumbuhan ekonomi juga berperan penting dalam meningkatkan kapasitas adaptasi. Hingga 2050, peningkatan pendapatan global diperkirakan dapat mengurangi dampak kematian akibat perubahan iklim sekitar 9 per 100.000 penduduk, menjadi angka yang setara dengan pengurangan signifikan terhadap berbagai penyebab kematian utama di dunia.
Namun, laporan tersebut mengingatkan bahwa tanpa pertumbuhan ekonomi yang memadai, risiko akan melonjak drastis. Dalam skenario tanpa peningkatan pendapatan, jumlah kematian akibat suhu ekstrem diproyeksikan bisa mencapai tujuh kali lipat secara global, terutama menghantam negara-negara dengan kapasitas adaptasi paling lemah.
Karena itu, Climate Impact Lab menyoroti pentingnya pendekatan adaptasi yang terarah yakni dengan memprioritaskan wilayah dan kelompok populasi paling rentan. Dengan strategi yang tepat, tambahan sumber daya dan kebijakan publik dapat secara signifikan mengurangi kematian yang sebenarnya dapat dicegah akibat perubahan iklim.
Foto: Freepic/Jcomp