Khaira J. Putri
Umar Idris
INVESTINGONCLIMATE.COM, JAKARTA. Krisis lingkungan diproyeksikan tetap menjadi ancaman global paling besar dalam satu dekade ke depan, menurut laporan The Global Risks Report 2026 yang dirilis World Economic Forum (WEF). Risiko seperti cuaca ekstrem, hilangnya keanekaragaman hayati, serta perubahan sistem Bumi menempati posisi teratas dalam proyeksi ancaman hingga 2036.
Temuan ini muncul dari penilaian terhadap tingkat keparahan berbagai risiko global dalam horizon jangka panjang yang menunjukkan kecenderungan peningkatan tekanan pada sistem alam dibandingkan kategori risiko lainnya.
"Peristiwa cuaca ekstrem mempertahankan posisinya sebagai risiko terbesar pada 2036, dengan setengah dari 10 risiko teratas bersifat lingkungan,” demikian tulis laporan yang dikutip pada Rabu (18/2/2026).
Selain cuaca ekstrem, WEF mencatat keruntuhan ekosistem dan perubahan sistem Bumi berada di posisi kedua dan ketiga risiko global. Peningkatan risiko ini mencerminkan tekanan yang semakin besar terhadap daya dukung lingkungan hidup serta potensi dampak berantai terhadap ketahanan pangan, kesehatan, dan stabilitas ekonomi dalam jangka panjang.
“Kehilangan keanekaragaman hayati dan keruntuhan ekosistem merupakan risiko dengan peningkatan tingkat keparahan paling tajam dari proyeksi dua tahun ke proyeksi 10 tahun,” tulis laporan tersebut.
Di sisi lain, dalam horizon waktu yang lebih dekat, perhatian responden dalam laporan justru tertuju pada dinamika non lingkungan yang dinilai juga lebih mendesak. Ketegangan geoekonomi, disinformasi, serta polarisasi sosial disebut sebagai faktor yang paling berpotensi memicu krisis dalam dua tahun ke depan.
Hal itu mencerminkan situasi global yang ditandai konflik kepentingan, fragmentasi ekonomi, serta tekanan terhadap tata kelola dan institusi publik di berbagai negara. Laporan tersebut juga menyoroti munculnya spektrum risiko baru seiring percepatan perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
“Risiko teknologi juga diperkirakan akan memburuk tingkat keparahannya selama dekade mendatang,” kata mereka.
Lebih lanjut, di tengah berbagai ketidakpastian tersebut, risiko sosial seperti ketimpangan dan polarisasi tetap bertahan sebagai ancaman utama lintas horizon waktu. Pelebaran kesenjangan ekonomi serta tekanan biaya hidup dinilai berpotensi melemahkan kontrak sosial, menurunkan kepercayaan publik terhadap institusi, dan meningkatkan kerentanan politik di berbagai kawasan.
WEF turut mencatat bahwa risiko ekonomi tidak sepenuhnya mereda dalam jangka panjang, meskipun tidak lagi mendominasi peringkat teratas. Konsentrasi sumber daya strategis, gangguan terhadap infrastruktur penting, hingga potensi perlambatan ekonomi masih memperlihatkan kecenderungan peningkatan tingkat keparahan dalam sepuluh tahun ke depan.
Pada akhirnya, laporan ini menegaskan bahwa arah masa depan global tetap terbuka dan sangat ditentukan oleh pilihan kebijakan yang diambil saat ini serta tingkat kolaborasi antarnegara dalam merespons berbagai risiko yang saling berkaitan.
Penegasan tersebut memperlihatkan pentingnya kerja sama internasional untuk merespons krisis yang saling terhubung, mulai dari perubahan iklim hingga ketegangan geopolitik, sekaligus menjadi pengingat bahwa stabilitas global pada dekade mendatang akan sangat ditentukan oleh kemampuan dunia mengelola risiko lingkungan yang terus meningkat.
“Masa depan bukan satu jalur tetap, melainkan beragam kemungkinan yang bergantung pada keputusan yang kita ambil hari ini sebagai komunitas global,” demikian pernyataan mereka.
Foto: BPMI Setpres/Mukhlis Jr.