Khaira J. Putri
Umar Idris
INVESTINGONCLIMATE.COM, JAKARTA. Pemerintah Inggris resmi meluncurkan program Climate Finance Accelerator (CFA) di Indonesia sebagai upaya mempercepat pengembangan bisnis rendah karbon sekaligus membuka akses pembiayaan bagi proyek-proyek iklim berskala besar. Peluncuran ini menandai fase baru kolaborasi kedua negara dalam mendorong transformasi ekonomi hijau yang terintegrasi dengan kebutuhan investasi jangka panjang.
Program tersebut mulai menerima pendaftaran proposal dari pelaku usaha di Indonesia dan diposisikan sebagai jembatan antara inovasi lokal dengan jaringan investor global yang berfokus pada pembiayaan berkelanjutan.
“Saya senang bahwa program yang sangat sukses ini kini hadir dan meluncurkan siklus pertamanya di Indonesia. Kami memahami bahwa bisnis-bisnis iklim yang tengah mencari pembiayaan dapat menghadapi tantangan untuk menjadi layak menerima investasi,” kata Duta Besar Inggris untuk Indonesia Dominic Jermey dikutip dari Antara, Rabu (4/2/2026).
Dominic menyebut peluncuran CFA ini turut dipandang sebagai tonggak lanjutan setelah penguatan kemitraan strategis Inggris–Indonesia yang sebelumnya ditegaskan oleh Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dan Presiden Prabowo Subianto di London. Inisiatif ini dirancang tidak hanya mempertemukan kebutuhan pendanaan dengan kesiapan proyek, tetapi juga memperkuat ekosistem investasi hijau melalui dukungan teknis, peningkatan kapasitas, serta pendampingan terarah bagi perusahaan terpilih.
Menurut Dominic, Indonesia memiliki posisi penting dalam lanskap aksi iklim global sekaligus menyimpan potensi besar sebagai pusat pertumbuhan solusi rendah karbon di kawasan.
“Kami berharap dapat memberikan dukungan kepada para pelaku bisnis yang terpilih untuk mendapatkan investasi,” imbuhnya.
Secara global, CFA disebut telah mendukung lebih dari 200 bisnis dan membuka peluang investasi bernilai ratusan juta dolar AS melalui berbagai kesepakatan pendanaan. Skema bantuan teknis yang diusung program ini diarahkan untuk membantu negara mitra, termasuk Indonesia dalam mencapai target Nationally Determined Contribution (NDC) dengan mempercepat pengembangan proyek yang siap didanai serta memiliki dampak pengurangan emisi yang terukur.
Kebutuhan pembiayaan iklim Indonesia sendiri diperkirakan mencapai ratusan miliar dolar AS hingga beberapa dekade ke depan, seiring komitmen menuju net zero pada 2060. Dalam konteks tersebut, kehadiran CFA dinilai memperluas kanal pembiayaan sekaligus memperkuat kepercayaan investor terhadap kesiapan proyek hijau domestik, terutama di sektor energi bersih, pengelolaan limbah, pertanian berkelanjutan, transportasi rendah emisi, proses industri, serta kehutanan dan penggunaan lahan.
Adapun, melalui pendekatan yang menghubungkan kesiapan teknis dan kelayakan finansial, CFA diarahkan untuk mengubah ambisi iklim menjadi portofolio proyek yang dapat langsung menarik investasi. Dampak yang diharapkan tidak hanya berupa penurunan emisi, tetapi juga penciptaan ketahanan ekonomi jangka panjang, pembukaan lapangan kerja hijau, serta percepatan adopsi teknologi bersih di berbagai sektor strategis.
Program ini dibuka mulai 2 Februari hingga 9 Maret 2026 dengan persyaratan nilai kebutuhan investasi minimum sebesar 3 juta dolar AS. Perusahaan yang lolos seleksi akan mengikuti rangkaian pendampingan intensif selama tiga hingga empat bulan, mencakup sesi kelompok dan konsultasi satu per satu bersama pakar finansial serta teknis, termasuk penguatan aspek kesetaraan gender, disabilitas, dan inklusi dalam pengembangan proyek.
Sekitar sepuluh bisnis direncanakan terpilih pada siklus awal, mewakili beragam sektor prioritas yang selaras dengan agenda transisi energi dan pembangunan berkelanjutan Indonesia. Dengan struktur dukungan yang komprehensif, CFA diharapkan menjadi katalis yang mempercepat realisasi investasi hijau sekaligus memperdalam kemitraan ekonomi Inggris–Indonesia dalam menghadapi tantangan perubahan iklim global.
Foto: Kedutaan Besar Inggris