Khaira J. Putri
Umar Idris
INVESTINGONCLIMATE.COM, JAKARTA. Indonesia diproyeksikan menjadi salah satu kandidat kunci pengembangan teknologi dan pasokan Sustainable Aviation Fuel (SAF) di Asia Tenggara, seiring besarnya potensi bahan baku berkelanjutan dan posisi strategis Indonesia dalam rantai pasok regional.
Proyeksi itu tertuang dalam ASEAN SAF 2050 Outlook Report yang menyebut ASEAN berpotensi memproduksi hingga 8,5 juta barel per hari SAF pada 2050, jauh melampaui kebutuhan domestik kawasan.
Adapun, SAF merupakan bahan bakar penerbangan yang berasal dari sumber terbarukan atau limbah, memenuhi kriteria keberlanjutan, mampu menurunkan emisi gas rumah kaca, dan dapat langsung digunakan pada pesawat serta infrastruktur eksisting tanpa modifikasi besar (drop-in fuel).
Laporan tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan ketersediaan feedstock paling melimpah sekaligus distribusi paling efisien untuk melayani pasar utama SAF di Asia, termasuk Jepang, Singapura, dan Korea Selatan. Dengan kombinasi limbah pertanian dan kehutanan yang besar, Indonesia dinilai berpeluang menjadi net exporter SAF dalam jangka menengah hingga panjang.
Dalam konteks regional, Indonesia disejajarkan dengan Vietnam, Malaysia, Filipina, dan Thailand sebagai negara dengan cadangan bahan baku terbesar. Namun, Indonesia disebut memiliki keunggulan tambahan dari sisi logistik dan kedekatan pasar, yang membuat biaya distribusi SAF ke pasar Asia Timur relatif lebih kompetitif dibanding negara lain di kawasan.
Selain sebagai eksportir, Indonesia juga diproyeksikan menjadi pasar SAF domestik yang signifikan. Permintaan SAF di kawasan ASEAN diperkirakan melonjak tajam dari sekitar 15 ribu barel per hari pada 2030 menjadi lebih dari 700 ribu barel per hari pada 2050, dengan Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand sebagai pusat permintaan terbesar.
Lebih lanjut, dari sisi teknologi, laporan tersebut mencatat bahwa Hydroprocessed Esters and Fatty Acids (HEFA) masih menjadi jalur produksi SAF paling dominan saat ini. Biaya produksi SAF berbasis HEFA diperkirakan sekitar dua kali lipat harga bahan bakar jet konvensional, dengan komponen biaya terbesar berasal dari feedstock.
Sementara itu, teknologi alternatif seperti Gasification/Fischer-Tropsch (FT), Alcohol-to-Jet (ATJ), dan Hydrothermal Liquefaction (HTL) masih memiliki biaya empat hingga tujuh kali lebih mahal, meski kesenjangan biaya tersebut diperkirakan menyempit seiring kematangan teknologi dan peningkatan skala produksi.
Dari sisi keekonomian, ketersediaan bahan baku dinilai menjadi faktor kunci dalam menentukan daya saing pengembangan SAF di Indonesia. Limpahan limbah pertanian dan kehutanan memberi ruang bagi penurunan biaya produksi sejak tahap awal.
Executive Advisor Energy and Infrastructure di GHD Sachin Narang mengatakan kawasan ASEAN, termasuk Indonesia, memiliki keunggulan struktural yang kuat dari sisi pasokan bahan baku berkelanjutan, yang dapat dimanfaatkan untuk mempercepat pengembangan industri SAF secara ekonomis.
“ASEAN, termasuk Indonesia, memiliki limpahan limbah pertanian dan kehutanan yang dapat menjadi feedstock berbiaya rendah, sehingga mempersempit premi harga antara SAF berbasis HEFA dan bahan bakar jet konvensional,” ujarnya.
Menurut Sachin, keunggulan pasokan tersebut perlu diimbangi dengan dukungan kebijakan, peningkatan skala produksi, serta inovasi teknologi agar biaya SAF dari jalur produksi alternatif dapat semakin kompetitif.
“Dengan intervensi kebijakan, peningkatan skala produksi, dan inovasi, kesenjangan biaya teknologi SAF alternatif juga dapat dipersempit dalam jangka menengah hingga panjang,” kata Sachin.
Sementara itu, dari perspektif industri penerbangan global, peningkatan pasokan SAF di Indonesia dan Asia Tenggara dinilai penting untuk memastikan pertumbuhan sektor aviasi tetap sejalan dengan target penurunan emisi karbon.
“Industri penerbangan komersial Asia Tenggara tumbuh sangat cepat untuk melayani ekspansi ekonomi kawasan. Selain menghadirkan pesawat yang lebih hemat bahan bakar, peningkatan pasokan SAF di Asia Tenggara akan semakin memungkinkan pertumbuhan yang bertanggung jawab,” kata Regional Sustainability Lead Boeing untuk Asia Tenggara Sharmine Tan.
Sebagai informasi, ASEAN SAF 2050 Outlook mengkaji proyeksi permintaan dan pasokan SAF pada 2030, 2040, dan 2050 di sejumlah negara ASEAN, yakni Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam, serta pasar impor utama di kawasan Asia Timur.
Laporan ini dikembangkan oleh GHD, dengan dukungan pendanaan dari Global Affairs Canada melalui Canadian Trade and Investment Facility for Development (CTIF), diimplementasikan oleh Cowater International bersama Institute of Public Administrators of Canada (IPAC), serta melibatkan Boeing sebagai mitra pengetahuan dan mendukung Sekretariat ASEAN.
Foto: asean.org