Khaira J. Putri
Umar Idris
INVESTINGONCLIMATE.COM, JAKARTA. Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia memaparkan tiga proyek investasi unggulan yang disiapkan untuk mendorong imbal hasil jangka panjang sekaligus dampak ekonomi nasional dalam forum World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss, Selasa (20/1/2026).
Managing Director of Investment Danantara Indonesia Stefanus Ade Hadiwidjaja membuka paparannya dengan menegaskan bahwa ketiga proyek tersebut merupakan contoh konkret dan representatif dari arah serta prioritas investasi Danantara dalam waktu dekat.
Ketiga inisiatif tersebut menurutnya mencerminkan bagaimana Danantara menjalankan mandat gandanya, yakni mengupayakan imbal hasil investasi yang berkelanjutan sekaligus mendorong dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan yang signifikan bagi Indonesia.
“Saya ingin memberikan tiga contoh transaksi yang saat ini sedang kami kerjakan untuk menggambarkan apa yang ingin kami capai dalam satu hingga dua tahun ke depan,” ujar Stefanus dalam sesi diskusi panel yang disiarkan melalui kanal YouTube Kementerian Investasi dan Hilirisasi - BKPM.
Tiga proyek tersebut meliputi pengelolaan sampah menjadi energi (waste-to-energy) skala nasional, pengembangan produk obat turunan plasma darah, serta pembangunan Kampung Haji Indonesia di Arab Saudi. Ketiganya dipilih karena dinilai mampu menjawab persoalan struktural Indonesia sekaligus memiliki potensi bisnis berkelanjutan.
Lebih rinci, proyek pertama adalah implementasi waste-to-energy (WtE) berskala nasional di lebih dari 30 kota dalam dua tahun ke depan. Stefanus menjelaskan, persoalan sampah di Indonesia telah menjadi isu lingkungan yang mendesak, namun di saat yang sama membuka peluang investasi dengan model bisnis yang matang.
“Ini menjadi isu yang memprihatinkan di Indonesia, tetapi pada saat yang sama ini merupakan contoh investasi yang mencoba menjalankan mandat,” ujarnya.
Menurut Stefanus, melalui proyek ini Danantara berupaya memperbaiki tata kelola sampah dan mengurangi dampak lingkungan, sembari menarik operator global dan investor internasional agar pengelolaan sampah dapat berjalan secara komersial dan berkelanjutan. Dengan pendekatan tersebut, proyek WtE tidak hanya menjadi solusi lingkungan, tetapi juga sumber pertumbuhan ekonomi baru.
Proyek kedua yang ditawarkan Danantara di Davos adalah investasi di sektor kesehatan, khususnya pengembangan produk medis berbasis derivatif plasma darah. Stefanus menyebut Indonesia saat ini masih sangat bergantung pada impor produk plasma, sementara potensi pasokan domestik belum dimanfaatkan secara optimal.
Melalui investasi ini, Danantara menargetkan penguatan ketahanan kesehatan nasional, sekaligus mendorong transfer pengetahuan dan teknologi melalui kemitraan dengan pihak internasional. Proyek ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan impor, menciptakan lapangan kerja, serta membangun industri kesehatan bernilai tambah tinggi di dalam negeri.
Proyek ketiga adalah pembangunan Kampung Haji Indonesia, yang dirancang sebagai kawasan terpadu bagi jamaah haji dan umrah Indonesia di Mekkah. Stefanus menilai proyek ini strategis mengingat besarnya jumlah jamaah asal Indonesia setiap tahun, serta kebutuhan akan layanan dan akomodasi yang lebih terstandarisasi.
“Saya pikir sekarang kita memiliki kesempatan untuk membangun Kampung Haji guna memberikan pengalaman yang lebih baik bagi masyarakat kita,” kata Stefanus.
Ia menjelaskan Danantara telah mulai berinvestasi pada sejumlah lahan di Mekkah untuk mendukung proyek tersebut. Kampung Haji diharapkan dapat meningkatkan kualitas layanan, kenyamanan, serta perlindungan bagi jamaah Indonesia, sekaligus menciptakan nilai ekonomi jangka panjang dari sektor pariwisata religi.
Ketiga proyek tersebut, lanjut Stefanus, mencerminkan mandat ganda Danantara sebagai sovereign wealth fund Indonesia, yakni mengejar imbal hasil investasi dan menciptakan dampak ekonomi serta sosial. Seluruh strategi investasi Danantara, menurutnya, selalu dimulai dari prinsip tersebut.
“Kita selalu mulai dengan mandat ini, yaitu realisasi kembalian dan kesejahteraan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Stefanus menjelaskan Danantara saat ini tengah mengelola sekitar 30 hingga 40 transaksi investasi aktif di berbagai tahap pengembangan. Selama hampir satu tahun terakhir, lembaga ini lebih banyak mempersiapkan fondasi organisasi, mulai dari tata kelola, manajemen risiko, hingga penguatan sumber daya manusia.
Selain itu, Danantara juga memperluas kapasitas investasi melalui kemitraan dengan berbagai sovereign wealth fund dan institusi global, serta pengembangan instrumen pembiayaan seperti fasilitas kredit senilai US$10 miliar dan Patriot Bond berbiaya rendah untuk mendukung proyek prioritas nasional.
Dengan membawa tiga proyek tersebut ke WEF Davos, Stefanus menegaskan posisi Danantara sebagai pengelola investasi negara yang tidak hanya mengejar keuntungan finansial, tetapi juga berperan aktif dalam menjawab tantangan lingkungan, kesehatan, dan pelayanan publik Indonesia di tingkat global.
Foto: Youtube BKPM RI